TEORI BELAJAR HUMANISTIK
Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. \proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah :
1. Proses pemerolehan informasi baru,
2. Personalia informasi ini pada individu.
a. Carl Rogers
Carl Rogers lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois Chicago, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tetapi akhirnya pindah ke bidang psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1931, sebelumnya ia telah merintis kerja klinis di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak.
Gelar profesor diterima di Ohio State tahun 1960. Tahun 1942, ia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy dan secara bertahap mengembangkan konsep Client-Centerd Therapy.
Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu:
1. Kognitif (kebermaknaan)
2. experiential ( pengalaman atau signifikansi)
Guru menghubungan pengetahuan akademik ke dalam pengetahuan terpakai seperti memperlajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup : keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah :
a. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
b. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
j. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
Salah satu model pendidikan terbuka mencakuo konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondidi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
1. Merespon perasaan siswa
2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4. Menghargai siswa
5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)
7. Tersenyum pada siswa
Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.
Implikasi Teori Belajar Humanistik
a. Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk):
1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
9. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
10. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko
Berikut banyak sekali hal-hal yang merupakan aplikasi dari
teori-teori humanistik dalam pembelajaran :
1. Open Education atau Pendidikan Terbuka
Pendidikan Terbuka adalah proses pendidikan yang memberikan
kesempatan kepada murid untuk bergerak secara bebas di sekitar
kelas dan memilih aktivitas belajar mereka sendiri.Guru hanya
berperan sebagai pembimbing.Ciri utama dari proses ini adalah murid bekerja secara individual atau dalam kelompok-kelompok
kecil.Dalam proses ini mensyaratkan adanya pusat-pusat belajar
atau pusat-pusat kegiatan di dalam kelas yang memungkinkan murid
mengeksplorasi bidang-bidang pelajaran,topik-topik, ketrampilanketrampilanatau minat-minat tertentu. Pusat ini dapat memberikan petunjuk untuk mempelajari suatu topik tanpa hadirnya guru dan dapat mencatat partisipasi dan kemajuan murid untuk nantinya dibicarakan dengan guru.
Adapun kriteria yang disyaratkan dengan model ini adalah
sebagai berikut :
a. Tersedia fasilitas yang memudahkan proses belajar, artinya
berbagai macam bahan yang diperlukan untuk belajar harus
ada.Murid tidak dilarang untuk bergerak secara bebas di ruang
kelas,tidak dilarang bicara,tidak ada pengelompokan atas dasar
tingkat kecerdasan.
b. Adanya suasana penuh kasih sayang, hangat, hormat dan
terbuka. Guru menangani masalah-masalah perilaku dengan jalan
berkomunikasi secara pribadi dengan murid yang bersangkutan,
tanpa melibatkan kelompok.
c. Adanya kesempatan bagi guru dan murid untuk bersamasama
mendiagnosis peristiwa-peristiwa belajar, artinya murid memeriksa pekerjaan mereka sendiri,guru mengamati dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
d. Pengajaran yang bersifat individual, sehingga tidak ada tes
ataupun buku kerja.
e. Guru mempersepsi dengan cara mengamati setiap proses
yang dilalui murid dan membuat catatan dan penilaian secara
individual, hanya sedikit sekali diadakan tes formal.
f. Adanya kesempatan untuk pertumbuhan professional bagi guru,
dalam arti guru boleh menggunakan bantuan orang lain termasuk
rekan sekerjanya.
g. Suasana kelas yang hangat dan ramah sehingga mendukung
proses belajar yang membuat murid nyaman dalam melakukan
sesuatu.
Perlu untuk diketahui, bahwa penelitian tentang efektivitas
model ini menunjukkan adanya perbedaan dengan proses pendidikan tradisional dalam hal kreativitas,dorongan berprestasi, kebebasan dan hasil-hasil yang bersifat afektif secara lebih baik. Akan tetapi dari segi pencapaian prestasi belajar akademik, pengajaran tradisional lebih berhasil dibandingkan poses pendidikan terbuka ini.
2. Cooperative Learning atau Belajar Kooperatif
Belajar kooperatif merupakan fondasi yang baik untuk
meningkatkan dorongan berprestasi murid. Dalam prakteknya,
belajar kooperatif memiliki tiga karakteristik :
a. Murid bekerja dalam tim-tim belajar yang kecil (4 – 6 orang
anggota), dan komposisi ini tetap selama beberapa minggu.
b. Murid didorong untuk saling membantu dalam mempelajari
bahan yang bersifat akademik dan melakukannya secara
berkelompok.
c. Murid diberi imbalan atau hadiah atas dasar prestasi
kelompok.
Adapun teknik-teknik dalam belajar koperatif ini ada 4 (empat)
macam, yakni :
a.Dalam teknik ini murid-murid yang kemampuan dan jenis
kelaminnya berbeda disatukan dalam tim yang terdiri dari empat
sampai lima orang anggota.Setelah guru menyajikan bahan
pelajaran,lalu tim mengerjakan lembaran-lembaran kerja,saling
mengajukan pertanyaan, dan belajar bersama untuk persiapan
menghadapi perlombaan atau turnamen yang diadakan sekali
seminggu. Dalam turnamen penentuan anggota tim berdasarkan
kemampuan pada minggu sebelumnya. Hasilnya, murid-murid
yang berprestasi paling rendah pada setiap kelompok memiliki
peluang yang sama untuk memperoleh poin bagi timnya sebagai
murid yang berprestasi paling tinggi.
Adapun jalannya turnamen adalah para murid secara bergantian
mengambil kartu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
tertera pada kartu itu, yakni pertanyaan yang sesuai dengan
materi yang telah dipelajari selama seminggu itu. Pada akhir
turnamen, guru menyiapkan lembar berikut tentang tim-tim yang
berhasil dan skor-skor tertinggi yang dicapai.
Meskipun keanggotaan tim tetap sama, tetapi tiga orang yang
mewakili tim untuk bertanding dapat berubah-ubah atas dasar
penampilan dan prestasi masing-masing anggota. Misalnya saat
ini prestasi murid rendah dan ia bertanding dengan murid lain
yang kemampuannya serupa, maka minggu berikutnya ia bisa
saja bertanding melawan murid-murid yang berprestasi tinggi
manakala ia menjadi lebih baik.
b.Teknik ini menggunakan tim yang terdiri dari empat sampai lima
orang anggota, akan tetapi kegiatan turnamen diganti dengan
saling bertanya selama lima belas menit, dimana pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terlebih dulu disusun oleh tim.Skor-skor
pertanyaan diubah menjadi skor-skor tim, skor-skor yang
tertinggi memperoleh poin lebih dari pada skor-skor yang lebih
rendah, disamping itu juga ada skor perbaikan.
c. Jigsaw
Murid dimasukkan ke dalam tim-tim kecil yang bersifat heterogen,
kemudian tim diberi bahan pelajaran.Murid mempelajari bagian masing-masing bersama-sama dengan anggota tim lain yang mendapat bahan serupa.Setelah itu mereka kembali ke
kelompoknya masing-masing untuk mengajarkan bagian yang
telah dipelajarinya bersama dengan anggota tim lain tersebut,
kepada teman-teman dalam timnya sendiri.Akhirnya semua
anggota tim dites mengenai seluruh bahan pelajaran.Adapun
skor yang diperoleh murid dapat ditentukan melalui dua cara,
yakni skor untuk masing-masing murid dan skor yang digunakan
untuk membuat skor tim.
d. Group Investigation
Disini para murid bekerja di dalam kelompok-kelompok kecil
untuk menanggapi berbagai macam proyek kelas.Setiap
kelompok membagi tugas tersebut menjadi sub-sub topik yang
dibebankan kepada setiap anggota kelompok untuk menelitinya
dalam rangka mencapai tujuan kelompok. Setelah itu setiap
kelompok mengajukan hasil penelitiannya kepada kelas.
Berdasarkan penelitian, teknik-teknik belajar kooperatif pada
umumnya berefek positif terhadap prestasi akademik. Selain itu
teknik ini juga meningkatkan perilaku kooperatif dan altruistic
murid.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teknik ini
merupakan teknik mengajar yang efektif untuk mencapai tujuan
instruksional kelas.
3. Independent Learning (Pembelajaran Mandiri)
Pembelajaran Mandiri adalah proses pembelajaran yang
menuntut murid menjadi subjek yang harus merancang,mengatur
dan mengontrol kegiatan mereka sendiri secara bertanggung
jawab.Proses ini tidak bergantung pada subjek maupun metode
instruksional,melainkan kepada siapa yang belajar (murid),
mencakup siapa yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari,
siapa yang harus mempelajari sesuatu hal,metode dan sumber
apa saja yang akan digunakan,dan bagaimana cara mengukur
keberhasilan upaya belajar yang telah dilaksanakan.
Dalam pelaksanaannya, proses ini cocok untuk pembelajaran di
tingkat atau level perguruan tinggi, karena menuntut kemandirian
yang tinggi dari peserta didik.Di sini pendidik beralih fungsi menjadi
fasilitator proses belajar,bukan sebagai penentu proses belajar.
Meski demikian,pendidik harus siap untuk menjadi tempat bertanya
dan bahkan diharapkan pendidik betul-betul ahli di bidang yang
dipelajari peserta.
Agar tidak terjadi kesenjangan hubungan antara peserta dan
pendidik, perlu dilakukan negosiasi dalam perancangan pembelajaran secara keseluruhan.Perancangan pembelajaran ini
didik dalam penentuan tujuan belajar secara individual.Tanggung
jawab peserta didik dan pengajar harus dibuat secara eksplisit dalam
perancangan pembelajaran.Partisipasi para peserta didik dalam
penentuan tujuan belajar akan membuat mereka lebih berkomitmen
terhadap proses pembelajaran.
4. Student Centered Learning (Belajar yang Terpusat pada SISWA)
Student Centered Learning atau disingkat SCL merupakan
strategi pembelajaran yang menempatkan peserta didik secara
aktif dan mandiri,serta bertanggung jawab atas pembelajaran yang
dilakukan.Dengan SCL peserta diharapkan mampu mengembangkan
ketrampilan berpikir secara kritis,mengembangkan system
dukungan social untuk pembelajaran mereka, mampu memilih gaya
belajar yang paling efektif dan diharapkan menjadi dan memiliki jiwa entrepreneur.Sama seperti model sebelumnya, SCL banyak diterapkan dalam system pendidikan di tingkat Perguruan Tinggi. Dengan SCL mahasiswa memiliki keleluasaan untuk mengembangkan segenap potensinya (cipta, karsa dan rasa),
mengeksplorasi bidang yang diminatinya,membangun pengetahuan
dan mencapai kompetensinya secara aktif,mandiri dan bertanggung
jawab melalui proses pembelajaran yang bersifat kolaboratif,k ooperatif dan kontekstual.
Adapun metode-metode SCL antara lain :
a. Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif)
Prinsip metode ini adalah mahasiswa belajar dari dan dengan
teman-temannya untuk mencapai suatu tujuan belajar dengan
secara penuh bertanggung jawab atas hasil pembelajaran yang
mahasiswa. Secara detail prosedur yang dilakukan dalam metode
ini adalah :
- Dosen menjelaskan topik yang akan dipelajari
- Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, setiap kelompok
terdiri dari 5 – 7 orang
- Dosen membagi sub-sub topik kepada masing-masing kelompok,
disertai dengan pertanyaan atau tugas-tugas yang berkaitan
dengan masing-masing sub topik
- Dosen meminta masing-masing kelompok mendiskusikan,
menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas-tugas pada
masing-masing sub topik
- Dosen meminta masing-masing kelompok mempresentasikan
hasil diskusi atau pekerjaannya dalam kelompok
- Dosen memfasilitasi pembahasan topik secara menyeluruh dalam kelas
b. Collaborative Learning (Pembelajaran Kolaboratif)
Prinsip dari Pembelajaran Kolaboratif adalah bahwa pembelajaran merupakan proses yang aktif. Mahasiswa mengasimilasi informasi dan menghubungkannya dengan pengetahuan baru melalui kerangka acuan pengetahuan sebelumnya.Pembelajaran memerlukan suatu tantangan yang akan membuka wawasan para mahasiswa untuk secara aktif berinteraksi dengan temannya.Di sini mahasiswa akan mendapatkan keuntungan lebih jika mereka saling berbagi.Pembelajaran terjadi dalam lingkungan sosial yang memungkinkan terjadinya komunikasi dan saling bertukar informasi,yang akan memudahkan mahasiswa menciptakan kerangka pemikiran dan pemaknaan terhadap hal yang dipelajari.Mahasiswa ditantang baik secara sosial maupun emosional ketika menghadapi perbedaan perspektif dan memerlukan suatu kemampuan untuk dapat mempertahankan ide-idenya. Dengan demikian melalui proses ini mahasiswa belajar menciptakan keunikan kerangka konseptual masing-masing dan secara aktif terlibat dalam proses membentuk pengetahuan.
Adapun prosedur pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut:
- Dosen menjelaskan topik yang akan dipelajari
- Dosen membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil yang
terdiri dari 5 orang
- Dosen membagi lembar kasus yang terkait dengan topik yang
dipelajari
- Mahasiswa diminta membaca kasus dan mengerjakan tugas yang
terkait dengan persepsi dan solusi terhadap kasus
- Mahasiswa diminta mendiskusikan hasil pekerjaannya dalam
kelompok kecil masing-masing dan mendiskusikan kesepakatan
kelompok
- Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi
kelompoknya dalam kelas dan meminta kelompok lain untuk
memberikan tanggapan
c. Competitive Learning (Pembelajaran Kompetitif)
Prinsip pembelajaran ini adalah memfasilitasi mahasiswa saling
berkompetisi dengan temannya untuk mencapai hasil terbaik. Kompetisi dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.
Kompetisi individual berarti mahasiswa berkompetisi dengan dirinya
sendiri dibandingkan dengan pencapaian prestasi sebelumnya.
Kompetisi kelompok dilakukan dengan membangun kerjasama
Prosedur proses pembelajaran kompetitif adalah sebagai berikut:
- Dosen menjelaskan tujuan pembelajaran
- Dosen membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil dengan
jumlah anggota 5 – 7 orang
- Dosen menjelaskan prosedur tugas yang akan dikompetisikan
dan standar penilaiannya
- Dosen memfasilitasi kelompok untuk dapat mengerjakan tugas
dengan sebaik-baiknya
- Masing-masing kelompok menunjukkan kinerjanya
- Dosen memberikan penilaian terhadap kinerja kelompok berdasar
standar kinerja yang telah disepakati
d. Case Based Learning (Pembelajaran Berdasar Kasus)
Prinsip dasar dari metode ini adalah memfasilitasi mahasiswa
untuk menguasai konsep dan menerapkannya dalam praktek
nyata.Dalam hal ini analisis kasus yang dikuasai tidak hanya
berdasarkan common sense melainkan dengan bekal materi yang
telah dipelajari.Pada akhirnya metode ini memfasilitasi mahasiswa
untuk berkomunikasi dan berargumentasi terhadap analisis suatu
Prosedur yang dilakukan dalam metode ini adalah :
- Dosen menjelaskan tujuan pembelajaran dan metode yang akan
digunakan
- Dosen meminta mahasiswa mempelajari konsep dasar yang
berkaitan dengan tujuan pembelajaran, dengan cara membaca
buku teks yang membahas materi tersebut.
- Dosen membagikan lembar kasus yang telah dipersiapkan,
dimana kasus ini haruslah relevan dengan tujuan dan materi
pembelajaran
- Dosen membagikan lembar pertanyaan yang harus dijawab
oleh mahasiswa berkaitan dengan pembahasan kasus tersebut.
Pertanyaan harus disusun sedemikian rupa sehingga menjadi
panduan mahasiswa untuk dapat menganalisis kasus.Dosen meminta masing-masing mahasiswa mempresentasikan hasil analisis kasusnya.Mahasiswa dan dosen dapat memberikan tanggapan terhadap presentasi yang disajikan.
Pada intinya, pembelajaran dengan SCL sangat bertentangan
dengan proses pembelajaran konvensional yang cenderung Teacher
Centered Instruction, yakni proses pembelajaran yang mengandalkan guru atau dosen sebagai sentralnya. Di sini nampak aplikasi dari aliran humanistik, yang sangat ‘memanusiakan’ peserta didik.
D. Penutup
Psikologi humanistik sangat relevan dengan dunia pendidikan,
karena aliran ini selalu mendorong peningkatan kualitas diri manusia
melalui penghargaannya terhadap potensi-potensi positif yang
ada pada setiap insan. Seiring dengan perubahan dan tuntutan
zaman, proses pendidikan pun senantiasa berubah. Dengan
adanya perubahan dalam strategi pendidikan dari waktu ke waktu,
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar